AKU MENCINTAIMU

Meskipun kadang cinta tak harus diucapkan namun ada saat dimana ungkapan itu

 

sangat berarti, tidak special mungkin namun sangat berharga.

 

Hingga dari ungkapan itulah sebuah pembuktian itu dibutuhkan.

 

……………………………………………………………………………………………………………….

“diakah yang kau cari selam ini..?”. ucapnya memburu.

 

“diakah poros kehidupanmu yang kau impikan selama ini?”.

 

“maafkan aku tapi begitulah adanya”. Ujar sang pria tenang bahkan terkesan terlalu santai.

 

“baiklah, jika begitu ‘Ayo kita berpisah’”. Putus sang wanita parau memalingkan wajahnya yang kini sudah penuh derai air mata namun pantang baginya menunjukkan rasa sakitnya dihadapan laki-laki sepertinya.

 

Sakit memang terlebih dia adalah suami yang kau cintai, lelaki yang kau dambakan dengan tega telah menorehkan luka, luka yang bahkan kau tak tahu apakah kau mampu untuk mengobatinya atau tidak. Luka yang teramat menyesakkan dada hingga rasanya kau takkan sanggip untuk menghembuskan nafas barang sedetikpun.

 

“hmm, aku akan segera mengurus perceraian kita dan mugkin 2 minggu lagi pihak pengadilan akan memproses perceraian kita dan aku harap kau tidak mempersulitku bagaimanapun juga, selama ini aku sudah banyak berkorban untukmu perasaanku bahkan benih yang kuinginkan tumbuh dalam rahimnya harus kau rebut dengan paksa.

 

See, bahkan dengan tidak berperasaan dirinya begitu tega mengeluarkan kalimat yang begitu menohok, SIALAN bahkan dia menyalahkanku atas hadirnya janin dalam perutku ini??? Bukankah sebaliknya, dialah yang merenggut paksa mahkotaku dengan menjanjikan aku kehidupan yang indah dimasa depat?,

 

“apa kau akan membiarkan aku menjalani masa kehamilanku seorang diri?”

 

“bukankah itu memang kewajiban seorang wanita, lalu apa hubungannya denganku lagi? Aku sudah cukup berbaik hati dengan memberikan spermaku secara gratis padamu jadi nikmati saja masa kehamilanmu, kau kan masih memiliki keluarga yang akan membantumu jika kau mengalami kesulitan?”.

 

“dia memang berengsek, tapi akan kutunjukkan padanya aku bisa dan aku mampu tanpanya”

 

“tidak masalah bagiku, hanya saja aku hanya ingin memperjelas status anakku apakah dia diinginkan atau tidak oleh ayahnya dan ternyata jawabanmu luar biasa. Semoga kau tidak akan menyesal, sayang”

 

“tidak akan. Karena aku akan bahagia dengannya dan kurasa kau tak perlu mencari apartement lagi karena aku yang akan pergi dari sini”.

 

BLAM!!!

 

Kini semuanya telah berakhir selepas punggung itu tertelan dibalik pintu..

 

………………………………………………………………………………………………………………………..

 

 

7 tahun berlalu….

Negara ini…

 

Kota ini…

 

Tempat dimana pria itu menorehkan luka, menghancurkan hati ini hingga tak tersisa bahkan aku harus membawa serpihan hati itu untukku susun kembali meski tak sepenuhnya utuh namun setidaknya aku telah berusaha.

 

“eomma inikah kota tempat halmoni dan haraboji tinggal?”

 

“hm… apa kau menyukainya?”

 

“hm… kota yang indah dan sangat ramah, tidak seperti di amerika yang sangat cuek dan kota yang tidak bersih. Betulkan eomma?”. Jawab sang anak

 

Betapa luar biasanya sang putri, Seo jouli yang baru berusia 7 tahun tapi sudah mampu menilai dari pandang orang dewasa. Dan Seohyun bangga akan itu.

 

“eomma apakah appa juga tinggal di kota ini?”.

 

Degh!!!!!

 

Apakah anaknya saat ini tengah merindukan figure seorang yang ayah yang bahkan selama ini tak pernah ia dengar secara langsung dari sang anak.

 

“eomma… kau melamun? Mianhae apa Jouli nakal sehingga membuat eomma bersedih?”. Ucap Jouli lirih.

 

“no baby, its’nt your wrong, baby” Seohyun menggeleng kuat menolak persepsi buruk sang anak yang menyalahkan dirinya sendiri.

 

“okay, sepertinya halmoni dan haraboji sudah menunggu kedatangan Jouli hari ini”. Seohyun mengalihkan topic sensitive yang dibahasnya dengan sang anak.

 

“benarkah eomma?”.

 

“tentu saja”. Seulas senyum terbit dari bibir pink cherry miliknya.

 

 

 

…………………………………………………………………………………………………………

 

Sedang di tempat lain, disalah satu ruangan kawasan apartement mewah terlihat seorang namja dengan keadaan yang kacau bahkan sangat kacau dan tidak terurus sama sekali terlihat dari ruangan yang ditempatinya berantakan, kacau dan sangat kotor, pakaian dan bekas makanan yang menyatu serta penerangan dalam ruangan yang redup.

 

Kriet…

 

Terdengar sebuah pintu yang terbuka menampilkan sosok wanita paruh baya yang membawa sebuah nampan berisikan makanan untuk si penghuni ruangan siapa lagi kalau bukan anaknya, Cho Kyuhyun.

 

Cho Kyuhyun yang dulunya sangat dihormati dan disegani baik lawan maupun kawan, sangat didambakan wanita remaja hingga menjadi idaman para ibu untuk menjadikan dirinya sebagai menantu.

 

Namun semua itu sudah berlalu karena yang kini yang terjadi justru sebaliknya, kehancuran melandanya hingga keluarga maupun kerabatnya tak mampu berbuat banyak semenjak penghianatan yang dilakukannya terhadap istri yang dengan tulus mencintainya namun ia sia-siakan bahkan disaat wanita itu mengandung benihnya. Tidak tahu diuntung bukan dan kini dia mendapatkan karmanya, dicampakkan oleh wanita selingkuhannya setelah berhasil mengusai hartanya dan beginilah keadaannya.

 

Menangis sepanjang malam meratapi kesalahan dan kebodohannya menyia-nyiakan wanita sebaik istrinya. Oh bukan istrinya lagi melainkan mantan istrinya. Bahkan apartemen ini yang dulu ia berikan saat ia mencapakkan istrinya.

 

Lagi, ketika kilasan balik peristiwa itu berputar-putar bak kaset rusak rasa sesak itu tak terbendung lagi rasanya. Oh malangnya nasibmu Cho.

 

“Seohyun..” Ujar Kyuhyun lirih berharap bahwa itu memanglah istrinya yang sangat amat dirindukannya.

 

“ini eomma nak, ayo makanlah. Eomma sudah membuatkan makanan kesukaanmu Kyu”. Dengan amat sangat terpaksa Nyonya Cho mengatakan sesuatu yang diluar ekspektasi sang anak.

 

“eoh… kau menyuruhku makan? Bagaimana mungkin aku bisa makan dengan enak semantara anak dan istriku entah dimana, bagaimana keadaannya, apakah mereka memakan makanan yang enak, apakah mereka tidur dengan nyenyak. Bisakah aku mengabaikan itu eomma!!! Ini sungguh menyakitkan eomma, hiks… ba… bagaimana bisa .. rasa sakit itu bahkan semakin membunuhku setiap detiknya eomma…

 

“tidak.. aku tidak bisa seperti ini terus eomma, aku sudah tidak sanggup lagi eomma lebih baik aku menyerah saja eomma sungguh aku tak sanggup..” Ucap Kyuhyun seraya memukul dadanya kuat agar rada sakit dan sesak itu berkurang didiringi deraian air mata membasahi pipinya.

 

““hey.. lihat eomma nak”. ujar nyonya Cho menangkup sisi wajah anak tercinta hendak mengucapkan sesuatu namun sesuatu menghentikan kegiatannya.

Drrt…..

 

“yeoboseo” Nyonya Cho menjawab telepon dengan setengah kesal karena menghentikan kegiatan berharganya bersama sang anak namun, sebisa mungkin ia menyimpan emosinya melihat id call pada layar ponselnya.

 

“……..”

 

“Benarkah…?” tantanya sumringah sambil melirik anaknya dengan iba

 

“…….”

 

“segera lakukan segala cara, apapun itu yang terpenting jangan menyakiti menantu dan cucuku”

 

“…..”

 

“baik”

 

“…..”

 

“saya tunggu kabar baik darimu Tn. Lee”

 

“….”

 

……………………………………………………………………………………………………………

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s